Manfaat Bermain Bagi Pertumbuhan Anak
Oleh Hanifah, M.Psi., Psikolog — Psikolog di Peony Kids' Centre Pondok Indah.
Bermain adalah sebuah lensa bagi seorang anak untuk merasakan dunia yang mereka jalani dan juga untuk melihat dunia yang dijalani oleh orang lain. Manfaat bermain ada dalam segi emosi, sosial, dan juga secara fisik. Secara emosi, dengan bermain seorang anak dapat mengekspresikan kecemasan, ketakutan, dan juga stres yang mereka miliki. Tidak hanya itu, ketika seorang anak bermain peran mereka juga dapat belajar untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Secara sosial, dengan bermain anak dapat belajar meningkatkan empati serta berbagi. Ketika bermain, setiap anak memiliki pilihan dan opsi, dan ketika bermain dengan orang lain maka muncullah dialog serta terbangunnya sebuah komunikasi. Dengan bermain bersama orang tua, terbangunlah kedekatan atau attachment. Setelah mendapatkan dampak positif dari penyaluran emosi dan kemampuan sosial yang lebih baik, hal ini akan membuat seorang anak menjadi tidak mudah stres dan mengalami depresi. Sedangkan secara fisik, anak yang bermain akan lebih mudah mengoordinasikan kemampuan motorik dan keseimbangan badannya (Goldstein, 2012).
Menurut Piaget, bermain dapat digunakan untuk mengasimilasi pengalaman setiap hari yang dimiliki sang anak terhadap skema kognitif yang mereka miliki saat ini. Bermain juga dapat menjembatani celah antara pengalaman dan pengertian sang anak, sehingga membantu memberikan makna untuk pemahaman, pembelajaran, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi. Dilihat dari sudut pandang neuroscience, bermain yang lebih kompleks di dalam ruangan akan membuat neuron semakin cepat terkoneksi satu sama lain (Angier dalam Frost, 1998).
Menurut Vygotsky (dalam Bergen, 2015), dengan adanya suatu setting khusus untuk anak bermain, seorang anak akan belajar bagaimana membuat suatu batas untuk perilaku tertentu. Tidak hanya itu, sang anak juga akan belajar mengenai symbolic thinking, belajar membuat rancangan, dan juga belajar self-regulation. Play therapy dilihat sebagai sebuah alat komunikasi antara anak dan terapis, di mana diasumsikan bahwa sang anak akan menggunakan alat-alat yang ada secara langsung ataupun simbolik untuk menyampaikan perasaan, pemikiran dan pengalaman mereka yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata (Axline, 1947; Kottman, 2001; Landreth, 2002; O'Connor, 2001; Schaefer, 2001 dalam Bratton, Ray, Rhine & Jones, 2005).
Daftar Pustaka
- Axline, V. (1974). Play Therapy (Revised Edition). United States: The Random House Publishing Group.
- Bergen, D. (2015). American Journal of Play: Psychological Approaches to the Study of Play.
- Bratton, S. C., Ray, D., Rhine, T., & Jones, L. (2005). Professional Psychology: Research and Practice — The efficacy of Play Therapy with children: A meta-analytic review of treatment outcomes.
- Frost, J. L. (1998). Neuroscience, Play, and Child Development.
- Goldstein, J. (2012). Play in children's health and well-being.